Laman

Thursday, February 14, 2013

Kekuatan vs Kelemahan

Bacaan Alkitab : Hakim 16 : 15 - 17

Ada pepatah mengatakan: "Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga". Pepatah ini hendak mengatakan dan menyadarkan kita bahwa bagaimana pun kuatnya dan sehatnya kita, tetap kita adalah manusia yang memiliki sisi kelemahan dan kekurangan. Jadi tidak ada manusia yang 100% sempurna.

Mengapa?
Karena manusia adalah ciptaan. Ia dibentuk oleh Allah dari bahan yang lemah, yakni debu tanah (bhs. Ibr: ADAMAH). Manusia tidak lebih dari ciptaan yang lainnya, bahkan Pengkh. 3:19-20 mengatakan: "Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang.....kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu". Kelebihan manusia hanya terletak pada karunia akal-budi sehingga manusia disebut makhluk yang berakal-budi. Dengan karunia akal budi, maka manusia dapat menata hidupnya dan merencanakan masa depannya. Karena itu, sangatlah fatal jika manusia melupakan kodratnya sebagai makhluk yang lemah, sebab jika demikian maka ia akan menyombongkan diri dan menganggap dirinya tidak mengharap pertolongan dari pihak mana pun, termasuk menyangkali ketergantungan dengan Allah yang telah menjaga dan memelihara hidupnya.

Mengapa manusia sering melupakan kodratnya sebagai makhluk yang lemah?
Menjawab pertanyaan ini maka kita harus kembali mengkaji apa kata Alkitab atau Firman Allah dari persoalan itu. Perikop bacaan kita adalah salah satu kisah dari Nazir (Utusan) Allah yakni Simson yang diberi karunia khusus yakni kekuatan melebihi manusia mana pun. Karunia ini harus dipergunakan oleh Simson dalam rangka mewujudkan rencana Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari tekanan bangsa Filistin.

Sangat fatal jika manusia menyombongkan diri dengan apa yang melekat pada dirinya. Memang Simson berusaha untuk tidak mengungkapkan letak dari kekuatan yang dimilikinya. Namun pengaruh godaan lebih besar dibandingkan upaya mempertahankan kesetiaan mengikuti jalan Tuhan (ay. 16), Apa yang terjadi dalam Kejadian 3 di mana Iblis memanfaatkan sisi kelemahan manusia sebagai sararan untuk memisahkan manusia dengan Sang Khalik. Sisi kelemahan itu adalah NAFSU yang tak terkendali. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena nafsu untuk menjadi sama seperti Allah. Menjadi sama seperti Allah berarti tidak mau lagi diatur oleh Allah, justru sebaliknya, manusia ingin mengatur Allah berdasarkan jalan pikirannya. Selain dari pada itu, manusia hanya memikirkan kenikmatan sesaat (Kej. 3:6). Ia tidak memikirkan akibat yang dapat ditimbulkan dari setiap keputusan yang diambilnya untuk jangka panjang (sekian waktu ke  depan). Kita sering tanpa sadar mengorbankan pihak lain hanya karena memikirkan kesenangan pribadi. Dan yang lebih fatal lagi ialah kecenderungan untuk cuci tangan dari setiap pergumulan yang dihadapi lalu mempersahakan pihak lain (Kej. 3:12-13).

Dalam kasus Simson, hal yang menonjol ialah rasa cintanya kepada sang kekasih yang nota bene merupakan perempuan yang tidak seiman. Simson takut cintanya diputuskan, karena itu ia mengorbankan imannya. Demi Cinta, maka ia menodai rencana penyelamatan Allah atas umat Israel. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang percaya. Ingatlah: "Iblis sangat lihai". Ia pandai melihat sisi kelemahan kita, dan kelemahan itu dipergunakan untuk menjerumuskan setiap orang percaya ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, sekali pun kita lemah; tetaplah percaya pada Tuhan, percaya pada janji-janjuiNya. Camkan perkataan Paulus: "justru di dalam kelemahanlah, kuasa Allah menjadi sempurna (2 Kor. 12:9)". Camkan hal ini: "Ketika anda kuat, jangan anda takabur; dan ketika anda lemah, jangan anda terkubur". Artinya: saat anda kuat jangan anda menyombongkan diri dan saat anda lemah, jangan anda mempersalahkan diri. Di dalam keadaan apa pun, di sana Allah.

No comments:

Post a Comment

Web gratis

Web gratis
Power of Love