Laman

Thursday, June 13, 2013

Bertanggung Jawab Dalam Mengelolah Bumi

Pengembangan Bahan Khotbah
Dari Buku Membangun Jemaat

Untuk Ibadah Hari Minggu, Tgl. 16 Juni 2013
(Hari Lingkungan Hidup)

Bahan Bacaan : Kej. 1 : 26 - 31

A. Keadaan Bumi Dalam Konteks Kekinian
(Hanya untuk bahan rujukan bagi pengkhotbah)


Berbicara tentang lingkungan sudah pasti tidak asing lagi bagi semua orang, karena persoalan lingkungan menjadi masalah untuk semua orang. Tidak ada alasan bagi setiap orang untuk berkata bahwa ia tidak mempunyai urusan dengan kerusakan lingkungan yang terjadi. Ya...semua orang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan karena itu semua orang harus berupaya untuk memulihkan; sebab kita membutuhkan lingkungan hidup yang bersih, aman dan harmonis. Sebuah lingkungan yang jauh dari bencana, tidak seperti selama ini.
Di negeri kita, telah menjadi menu rutin, bencana alam datang bertubi-tubi. Indonesia semakin meringis dan menangis karena bencana lingkungan yang selalu mengancam dan menghantam.

Di kala musim panas tiba, bencana kekeringan datang melanda. Tanah kering kerontang, lahan pertanian terbengkalai, petani gagal panen dan di daerah pedesaan, masyarakat harus menempuh perjalanan sekian kilo meter untuk mendapatkan sumber mata-air. Hati kita menjadi miris ketika air kubangan kerbau dan kolam pembuangan limbah industri dikonsumsi manusia karena ketiadaan air bersih. Belum lagi hutan rentan terhadap bahaya kebakaran. Dan hal ini semakin diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang fungsi hutan sehingga terjadi pembakaran hutan di mana-mana. Hutan yang terbakar bukan hanya membawa dampak yang buruk bagi kesehatan masyarakat sekitar, tetapi beberapa waktu yang lalu, asap dari kebakaran hutan di Indonesia menjadi sorotan dunia Internasional. Terjadinya hujan asam dan menipisnya lapisan ozon adalah dampak langsung dari kumpulan asap yang bersumber dari kebakaran hutan itu sendiri. Bumi terancam dengan apa yang disebut Global Warming (Pemanasan Global) yaitu: "suatu proses meningkatnya suhu rata-rata Atmosfir, suhu Laut dan suhu Dataran Bumi".

Akibat dari peningkatan suhu Atmosfir, suhu Laut dan Suhu Dataran Bumi adalah naiknya permukaan air laut karena dataran es di daerah kutub mengalami pencairan. Dan juga terjadinya perubahan iklim dari yang biasanya menjadi tidak biasa serta menimbulkan cuaca yang ekstrem. Perubahan cuaca yang tiba-tiba dari panas menjadi hujan dengan curah yang cukup tinggi. Akibatnya, bencana banjir sudah menjadi langganan di setiap sudut wilayah Indonesia. Banjir kiriman (banjir bandang) pun dialami oleh wilayah-wilayah yang ada di dataran rendah. Beberapa peristiwa banjir bandang yang cukup parah terjadi di persada ini. Misalnya pada tgl. 2 Nopember 2003, banjir bandang melanda Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara akibat meluapnya air Sungai Bahorok dan menelan korban jiwa 129 orang tewas dan 100 orang dinyatakan hilang. Tgl. 1 Januari 2006 banjir bandang melanda Jember dengan menelan korban 56 orang dinyatakan tewas. Tgl. 4 Oktober 2010 melanda Wasior di Papua Barat dengan menelan korban 158 orang tewas dan 145 orang dinyatakan hilang. Tgl. 17 Januari 2013 banjir bandang melanda DKI Jakarta dan melumpuhkan roda perekonomian. 74 kelurahan dan 31 kecamatan terendam banjir. Sebanyak 97.608 KK atau 248.846 jiwa kehilangan tempat tinggal dan 11 orang dinyatakan meninggal dunia. Masih begitu banyak daerah-daerah yang mengalami kebanjiran secara rutin dan tidak terhitung kerugian yang ditimbulkannya.

Bukan hanya itu, bencana tanah longsor juga membawa duka yang mendalam. Tgl. 11 Maret 2013 musibah tanah longsor terjadi di kampung Ciawi, Cianjur-Jawa Barat yang mengubur 13 orang, belum termasuk puluhan anak-anak yang sedang mengaji di Musallah. Tgl. 25 Maret 2013, desa Cililin, Bandung-Jawa Barat diterpa tanah longsor. 6 orang dinyatakan tewas dan 18 orang dinyatakan hilang. Dan tgl. 14 Mei 2013 terjadi tanah longsor di areal pertambangan PT. Freeport Indonesia dan menewaskan 28 orang (25 laki-laki dan 3 perempuan). Semua ini terjadi karena kerusakan lingkungan ini sudah semakin parah. Bumi sekarang sedang diujung tanduk menuju kepada kehancurannya. Dan sesungguhnya alam telah memberi peringatan kepada kita, agar kita memperlakukan alam ini dengan baik, arif dan bijaksana. Jikalau tidak, maka bencana besar akan terus mengancam.

Ancaman alam saat ini sungguh serius. Masih segar dalam ingatan kita peristiwa Gempa Bumi dan Tsunami yang melanda Aceh dan Kepulauan Nias tgl. 26 Desember 2004 yang menelan korban jiwa lebih dari 126.000 orang tewas dan menghancurkan lebih dari 50 % infrastruktur. Dan pada tgl. 26 Oktober 2010 Indonesia kembali berduka akibat meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta yang menelan korban jiwa  165 orang (termasuk Raden Ngabehi Surakso Hargo yg dikenal dng nama Mba Maridjan) akibat lahar panas. Dan sehari setelah  meletusnya Gunung Merapi, Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat dilanda Gempa 7,2 Skala Richter dan menimbulkan Tsunami yang mengerikan.  Tercatat 31 orang meninggal dunia dan 103 orang dinyatakan hilang. Bencana-bencana seperti ini memang bukan akibat langsung dari ulah manusia tetapi akibat dari pergeseran lempengan tanah di perut bumi; tetapi peristiwa-peristiwa seperti ini seharusnya menjadi awasan bagi kita bahwa bumi ini butuh penanganan khusus karena sudah mengalami kerusakan yang begitu parah.

Kerusakan alam yang paling parah adalah pengrusakan hutan. Menurut data Departemen Kehutanan untuk thn. 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi secara optimal di Indonesia telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan yang ada. Laju pengrusakan hutan per tahun mencapai 2,83 juta hektar. Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektar per tahun. Dan data dari Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukkan angka bahwa Rp. 83 milyar per tahun Indonesia mengalami kerugian finansial akibat penebangan liar.

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya melalui vivAnews edisi rabu tgl. 27 Pebruari 2013 mengatakan bahwa kerusakan hutan khususnya di wilayah Kalimantan adalah akibat dari kegiatan pertambangan yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan. Kesalahan dalam mengelolah hutan kini menjadi sorotan dunia. Belthasar menambahkan bahwa saat ini kawasan hutan baik di Sumatera, Papua dan Kalimantan sudah banyak yang digunakan untuk kepentingan bisnis. Wilayah Kalimantan, sekitar 58 juta hektar atau 72 % sudah menjadi tempat bisnis, padahal 40 % Hutan Kalimantan adalah kawasan konservasi. Karena itu, sudah saatnya kita menyelamatkan bumi ini sebagai rumah bersama yang akan kita wariskan bagi anak cucu di kemudian hari.

B. Sekilas Tentang Teologi Penciptaan
(Hanya untuk bahan rujukan pengkhotbah, tapi dapat dijadikan pengantar khotbah)

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Alkitab bukanlah sebuah buku Ilmu Pengetahuan, bukan buku Sejarah. Alkitab tidak menyampaikan data dan fakta sejarah bagaimana dan kapan alam semesta ini diciptakan dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Alkitab memang tidak bermaksud untuk menyampaikan data ilmiah. Maksud dari cerita penciptaan dalam Alkitab "bersifat etis dan keagamaan", dan karena itu tidak bisa kita jadikan bahan rujukan untuk hal-hal yang bersifat ilmiah.

Alkitab adalah "Buku Iman". Sebuah buku yang mengisahkan bagaimana hubungan antara Tuhan - Manusia - Alam Semesta. Kisah-kisah dalam Alkitab mau menyampaikan pesan tertentu kepada kita yang hidup dalam konteks kekinian yang perbedaan waktunya cukup jauh saat Alkitab itu sendiri dituliskan. Pesan itulah yang mesti kita temukan dan kita jadikan pegangan untuk hidup beriman, bukan kebenaran detail ceritanya yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kaidah ilmiah. Kalau pun ada ceritanya yang kurang masuk akal atau bertentangan dengan kaidah ilmiah, maka hal itu tak perlu membuat kita meragukan akan kekuasaan Allah yang menciptakan segala-galanya.

Dalam Alkitab, rujukan tentang ajaran penciptaan tersebar secara luas baik dalam kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, kisah penciptaan atau hal-hal yang terkait dengan penciptaan dapat kita temukan misalnya dalam: Yes. 40:26, 28 ; Yes. 42:5 ; Yes. 45:18 ; Yer. 10:12-16 ; Amos 4:13 ; Mzm. 33:6, 9 ; Mzm. 90:2 ; Mzm. 102:25 ; Ayub 38:4 dst ; Neh. 9:6. Dermikian juga dapat kita jumpai dalam Perjanjian Baru, misalnya: Yoh. 1:1 dst ; Kis. 17:24 ; Roma 1:20, 25 ; Roma 11:36 ; Kol. 1:16 ; Ibr. 1:2 ; Ibr. 11:3 ; Why 4:11 dan Why. 10:6. Dan sesungguhnya titik tolak dari ajaran penciptaan adalah: "Karena iman, kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibr. 11:3)". Dari titik tolak inilah maka ajaran Alkitab tentang penciptaan didasarkan atas "Penyataan atau Wahyu Ilahi", dan hal ini hanya dapat dimengerti dan diterima dengan iman dan bukan dengan logika atau bukan dengan akal budi. Demikianlah penciptaan harus dimengerti sebagai perbuatan Allah yang besar untuk menyatakan kepada manusia bahwa Ia tidak dapat disetarakan dengan apa pun juga dalam dunia ini. Karena itu, segenap ciptaan khususnya manusia harus bergantung sepenuhnya pada kuasaNya dan takluk pada segala ketetapan-ketetapanNya. Allah menciptakan dunia "bagi penyataan kemuliaan kuasa, hikmat dan kebaikanNya yang bersifat kekal". Dan Johanes Calvin  membahasakan maksud penciptaan sebagai "arena atau panggung pementasan untuk mempertontonkan kemuliaanNya kepada manusia".


C. Pendalaman Teks dan Penerapan

Konteks bacaan kita adalah "Penciptaan Manusia" sebagai puncak dari segala proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah dalam 6 hari. Cara Allah dalam menciptakan manusia berbeda dengan cara Allah menciptakan ciptaan-ciptaan yang lainnya. Jika ciptaan yang lainnya diciptakan dengan cara "Berfirman", maka manusia diciptakan dengan cara yang unik. Allah berembuk dengan diriNya sendiri; "bagaimana dengan ciptaan yang satu ini. Ia harus beda dari yang lainnya". Lalu Allah menciptakan manusia menurut "Gambar" (bhs. Ibr: DEMUTH) dan  "Rupa" (bhs. Ibr: TSELEM). Tidakkah hal ini menjadi sebuah kebanggaan bagi manusia? Sungguh manusia adalah mahkota dari segala ciptaan, karena itu di mata Tuhan, manusia memiliki harkat dan martabat, dan hal inilah yang membuat manusia lain dari pada ciptaan yang lainnya. Kalau Allah menciptakan manusia (Laki-laki dan Perempuan) segambar dan serupa denganNya, maka itu berarti manusia sangat berharga dibandingkan ciptaan yang lainnya. Itulah sebabnya, kepada ciptaanNya yang satu ini (yang disebut MANUSIA), Allah memberikan nilai Excellent (nilai yang amat sempurna): "Sungguh Amat Baik". Jadi apapun status sosial kita, latar belakang pendidikan kita, kedudukan dalam masyarakat, yang jelas di mata Tuhan; anda dan saya sangat berharga, sebab kita adalah gambar dan rupaNya.

Ya....manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah (ay. 26a). Kedua kata yang dipergunakan dalam penciptaan manusia mau menekankan tentang kewibawaan Allah yang ada dalam diri manusia yang berkaitan dengan penugasan untuk menata dan mengelolah ciptaan yang lainnya. Manusia mendapat Mandat Ilahi untuk mengatur dan memelihara seluruh karya cipta Allah yang ada. Dalam konteks masyarakat Timur Tengah (khususnya Mesir dan Siria), seorang raja dilihat sebagai "representasi Allah" atau penampakan Allah; tepatnya wakil Allah di bumi. Nampaknya ini juga yang menjadi konteks dari kitab Kejadian, di mana Allah memberi kuasa kepada manusia untuk Mengatur, Mengelolah dan Memelihara seluruh ciptaan yang ada. Pesan inilah yang terkandung dalam ayat 26b: "supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi". Pesan ini kemudian mendapat penegasan dalam ayat 28b: "beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi". Atas dasar ini maka kita dapat maklumi apa yang dikatakan sang pemazmur dalam Mzm. 8:4-9, demikian: "Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya Engkau telah letakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan".

Namun patut mendapat perhatian bahwa sebagai pemegang mandat ilahi, maka manusia harus melaksanakan tugasnya itu di dalam ketaatan dan kesetian kepada yang memberi mandat, yakni Tuhan. Manusia tidak boleh menjalankan dan melaksanakan penugasan itu berdasarkan keinginannya atau berdasarkan kepentingannya. Tujuan dari penugasan itu adalah "Supaya Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu". Karena itu dalam menjalankan tugas penataan, pengelolahan dan pemeliharaan seluruh ciptaan, maka manusia harus tunduk pada kehendak Allah.

Memperingati hari lingkungan hidup sedunia, maka kita harus kembali merenungkan maksud Tuhan dalam menciptakan kita manusia. Kekuasaan yang diberikan Allah dalam menata, mengelolah dan memelihara dunia ini bukanlah kekuasaan yang menaklukkan dan merusak, tetapi kekuasaan yang menumbuhkan dan membangun. Namun menyaksikan kenyataan yang ada, manusia telah mempergunakan salah kekuasaan itu bukan lagi dengan tujuan yang luhur yakni "Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu", tetapi kekuasaan itu dipergunakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu. Kekuasaan yang telah keluar dari kodrat Ilahi membuat bumi saat ini mengerang. Kata kunci "berkuasa"  dan "taklukkan", telah disalah-tafsirkan sebagai "dominasi" (menguasai secara mutlak). Karena itu, dengan kemampuan yang manusia miliki, maka alam ini dikeruk tanpa berpikir dampak yang akan ditimbulkannya. Hedonisme telah merasuki hidup manusia di mana kesenangan dan kenikmatan materi dijadikan tujuan utama dalam hidup, sehingga lingkungan menjadi sasaran untuk mewujudkan tujuan itu. Hedonisme telah melahirkan manusia-manusia yang serakah, dan akibat dari keserakahan adalah eksploitasi alam secara besar-besaran yang berakibat pada kerusakan lingkungan dan ekosistem.

Apakah Allah membiarkan alam ciptaannya yang baik ini dirusak oleh manusia?
Ternyata Allah tidak tega karyanya dirusak oleh tangan-tangan manusia serakah. Bahasa alam dengan terjadinya bencana di mana-mana harusnya membuka mata kita bahwa Allah sedang menegur dan memperingati manusia. Allah hendak menyadarkan kita tentang kodrat manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah. Allah tidak menghendaki kerusakan dan pengrusakan, dan sebagai Gambar dan Rupa Allah maka manusia tidak boleh melakukan pengrusakan atas alam. Allah menghendaki supaya bumi di mana kita berada menjadi rumah bersama, sebuah Eden Yang Damai, di mana harmoni antara Allah - Manusia - Alam terjaga dan terpelihara dengan baik.

Sadar atau tidak, kita semua merindukan lingkungan yang lestari, sebuah lingkungan yang bersih, teduh dan nyaman. Namun mengapa kini  semakin sedikit orang yang peduli terhadap persoalan lingkungan yang semakin parah? Mengapa semakin sedikit orang yang peduli terhadap bumi yang semakin rusak ini? Karena itu, sebagai anak-anak Tuhan; mari kita belajar untuk hidup bersih. Janganlah buang sampah di sembarangan tempat. Sekecil apa pun sampah yang kita buang bukan pada tempatnya, akan membawa dampak buruk bagi lingkungan di mana kita berada. Marilah kita bangun kesadaran tentang pentingnya lingkungan yang hijau. Ingatlah, di tangan kita Tuhan meletakkan kuasa untuk menyelamatkan bumi ini dari dampak Global Warming. Apa yang kita buat untuk terciptanya sebuah lingkungan yang baik dan asri, adalah sebuah investasi bagi anak cucu kita untuk menikmati hidup yang lebih baik di kemudian hari.
Selamat memperingati Hari Linkungan Hidup Sedunia.
Tuhan Yesus, Sang Pemilik bumi ini memberkati kita semua.



No comments:

Post a Comment

Web gratis

Web gratis
Power of Love